"Lewat tulisan, kita bisa mengubah kehidupan"

MENYIMPUL SEJARAH DI CANDI SUMBERAWAN

Sejarah adalah simpul-simpul kejayaan masa lalu yang menjadi pijakan atas terciptanya kejayaan baru di masa yang akan datang.

Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai kerajaan serta cerita penjajahan yang silih berganti. Setiap pergantian periode telah meninggalkan bukti atas eksistensinya. Banyak bukti-bukti yang dimilikinya. Sebut saja prasasti, candi, karya sastra, dan lain-lain. Bukti inilah yang harus kita jaga sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para pelaku sejarah di masa lalu.

Upaya penghargaan yang dapat kita lakukan adalah dengan mengunjungi situs-situs peninggalan sejarah. Situs-situs ini menyimpan banyak cerita tentang masa lampau yang bermanfaat bagi tambahan pengetahuan kita. Selain itu, wisata ini sekaligus mampu menumbuhkan semangat nasionalisme dan rasa cinta terhadap karya anak bangsa.


Faktanya, minat masyarakat untuk menjadikan situs sebagai tempat wisata menurun drastis. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan mengunjungi wahana permainan modern, mall, dan sebagainya. Ironisnya lagi, kebanyakan dari mereka lebih suka menikmati sejarah budaya lain dengan berwisata ke luar negeri. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, siapa lagi yang akan menjaga warisan budaya anak negeri? Padahal Indonesia menyimpan banyak warisan budaya yang indah, unik, dan menarik. Salah satunya adalah candi yang terletak di Desa Toyomarto, kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini bernama Candi Sumberawan.

LOKASI DAN RUTE PERJALANANNYA

Candi Sumberawan terletak 6 km dari Candi Singosari. Bila Candi Singosari terletak di pinggir jalan raya, berbeda dengan Candi Sumberawan. Jalan yang di lalui cukup panjang dan berkelok-kelok sehingga susah untuk di deskripsikan. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika bertanya ada penduduk tentang letak candi tersebut sebelum ke sana. Hal ini diperlukan agar terhindar dari penyasaran. Candi ini berada di tengah hutan pakis. Bila ingin ke sana, kita harus berjalan kaki sejauh 400 m.


Candi Sumberawan terletak 400 m dari jalan raya

Rute jalan kaki ini melewati jalan setapak yang ukurannya tidak begitu besar. Jalan ini hanya cukup diisi oleh satu orang saja. Diperlukan kehati-hatian saat berjalan karena kanan-kiri jalan tersebut adalah sungai dan sawah.


Kanan dan kiri jalan setapak adalah sungai dan sawah

Setelah melewati jalan setapak, sampailah pada hutan pinus tempat Candi Sumberawan itu berada.





Dan  selamat datang di Candi Sumberawan


Candi Sumberawan

SEJARAH CANDI SUMBERAWAN

Candi Sumberawan ditemukan pertama kali pada tahun 1904. Pada tahun 1935, Dinas Purbakala melakukan kunjungan ke sana. Selanjutnya, pada tahun 1937, candi ini dipugar. Pemugaran ini dilakukan pada bagian kaki candi dan bagian lain direkonstruksi secara darurat.


Para ahli purbakala memperkirakan bahwa Candi Sumberawan ini bernama Kasurangganan dulunya. Nama ini cukup terkenal dalam kitab Negarakertagama. Candi ini pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk pada tahun 1359 M, ketika ia mengadakan perjalanan. Berdasarkan bentuk yang tertulis pada stupa (dagoba) dan batur, dapat diperkirakan bahwa candi ini didirikan pada zaman kerajaan Majapahit, sekitar abad 14-15 M. Selain itu, bentuk stupa candi ini menunjukkan latar Budhisme.




Informasi tentang Candi Sumberawan bisa dibaca di papan pengumuman

KONDISI CANDI SUMBERAWAN

Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. 
Puncak Stupa Candi Sumberawan hilang

Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan.

Selain itu, terdapat tempat mensucikan diri yang letaknya di samping candi. 

Tempat mensucikan diri


sesajen dan dupa seringkali menghiasi Candi Sumberawan 

Berwisata ke situs peninggalan sejarah memang kurang menarik dibandingkan berwisata ke tempat lain. Namun ada hal yang pasti di dapat dari sini. Sebuah rasa menghargai terhadap karya cipta dan sejarah anak bangsa. Meskipun sang pelaku sudah tidak tidak ada, tapi kejayaan yang ditorehkannya harus tetap dikenang sepanjang masa.
Ceritaku tentang Candi Sumberawan juga dimuat lho di Harian Surya

¡Compártelo!

3 comments:

Kodok kampus

memang banyak sekali yang jarang terjangkau sama halnya sumber awan dan saya pernah kesana selain jalan yang lumayan sulit masih banyak yang mengangap biasa saja keberadaannya.

Hilmia Wardani Nugroho

menurut saya, di sana cukup menyenangkan. hanya saja kurangnya rasa menghargai yang dimiliki masyarakat yang membuat situs itu terpinggirkan

Alfiyah Rizzy

aksesnya yg sulit.. sehingga kurang menarik

Posting Komentar

Buscar

 
BENITORAMIO Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger